Id Mubarok

Ada bahagia dan sedih bersamaan datang menghampiri diri saat ini. Ketika hari raya Idul Fithri nan suci menjelang seiring berlalunya bulan Ramadhan yang penuh berkah. Sekali lagi diri ini masih merasa belum mampu untuk mengoptimalkan kesempatan yang telah Dia berikan. Masih saja belum banyak perubahan yang dihasilkan dalam diri. Dan masih saja diri ini belum mampu membersihkan kedegilan dalam hati untuk lebih bermunajat dan lebih mendekatkan diri pada-Nya.

Hati ini masih saja terkotori dengan impian kesemuan duniawi dan keluh kesah terhadap berbagai masalah yang tengah dihadapi. Tanpa terasa hari-hari yang sangat berharga di bulan Ramadhan tersebut telah hilang dan berganti, berlalu seperti tanpa memberikan bekas dalam diri. Tangis penyesalanku di akhir perjalan mungkin tak kan pernah ada arti. Semoga azzam yang kuat dapat terpatri dan tertanam dalam diri untuk tidak lagi mengulangi kesalahan ini dan semoga Allah SWT mempertemukan diri ini dengan bulan Ramadhan nan suci yang akan datang.

Id mubarok! Pada akhirnya saya, Miftahul Huda, beserta keluarga (Grifingga Shintamaya Putri – istri; Nadia Rafidah Salsabila – Anak pertama; Hasan Abdullah Azzam – Anak kedua) mengucapkan:

تقبل الله منا ومنكم الصيام والقيام  - وكل عام وانتم بخير

Semoga Allah SWT menerima amal-amal kita semua di bulan Ramadhan ini dan mengumpulkan kita dalam kebaikan. Kami juga mohon maaf pada semua orang yang pernah berinteraksi dengan kami, di kantor, di pasar, di jalan, dan di belahan mana pun di bumi ini atas kekhilafan perbuatan, ketidak mampuan menjaga perkataan, dan beribu kesalahan lainnya. 

Minal ‘Adin wal Faidzin. Selamat merayakan Hari Raya Idul Fithri 1429 H.

note: mohon maaf juga karena setelah beberapa bulan baru bisa posting lagi karena kesibukan di kantor dimana tidak mungkin menggunakan waktu dan fasilitas internet untuk posting blog pribadi :)  

 

Cita-cita itu masih ada, Sayang…

Esok adalah hari terakhir batas waktu habisnya sewa kontrakan mungil kita. Kemarin aku sempat menghadirkan awan kelabu di mata indahmu, bidadariku. Mungkin saat itu dirimu sedang lelah, atau bingung mau bagaimana. Tapi aku harus secepatnya mengambil keputusan. Dengan terpaksa aku mengkonfirmasi menerima tawaran seorang teman untuk menempati salah satu rumahnya yang sudah cukup lama tidak terhuni dan juga tidak terawat. Aku dan dirimu sempat berselisih mengenai keputusan itu, tatkala keputusan itu harus ku ambil yang mungkin tidak terlalu sesuai dengan konsep kemandirian yang sejak awal kita usung. Mungkin banyak yang seharusnya ku sampaikan padamu sebelum memberitahukan keputusanku untuk menerima tawaran itu…

Cinta, maafkan daku tidak memberitahukan dirimu dulu alasanku untuk mengambil keputusan ini. Ku tahu dirimu sangat disibukkan oleh semua aktifitas rumah tangga dan mengayomi dua ‘aktivis‘ kecil dirumah kontrakan mungil kita. Aku juga tahu jika ini tidak sesuai dengan cita-cita kita dulu. Keputusanku untuk menerima tawaran itu harus cepat aku lakukan. Dua hari lagi setelah diskusi kita adalah hari terakhir jatah sewa kontrakan kita sementara dana yang tersisa hanya cukup untuk makan kita beberapa hari ke depan saja. Jangankan untuk membayar kontrakan, untuk membeli susu putri sulung kita pun entah bagaimana. Kita mungkin bisa menceritakan masalah keuangan ini ke saudara-saudara kita, dan pasti mereka bisa segera membantu secepatnya. Tapi aku adalah laki-laki yang masih memiliki harga diri untuk tidak meminta dan merepotkan orang lagi. Kita yang seharusnya lebih pandai lagi menyiasati keterbatasan kondisi kita. Kontrakan kita saat ini cukup mahal untuk kita yang masih belum berpenghasilan pasti. Dirimu pasti mengenal aku yang tidak mungkin berbagi qodhoya (masalah) dengan orang lain. Aku hanya ingin menebar senyum meski pahit yang sedang kita rasakan.

Mentariku, kita memiliki harta yang paling berharga di dunia ini, kedua anak kita tercinta. Mereka adalah investasi akhirat kita kelak. Pendidikan mereka adalah tanggung jawab kita berdua. Mereka adalah kertas putih dan kitalah yang akan menulis dan mewarnainya. Apalagi saat ini adalah masa yang penting menanamkan akar yang kuat pada diri mereka. Sehingga kita pun harus sedapatnya melindunginya dari hama dan hewan pengerat yang akan habis menggerogoti pola pikir mereka. Dengan batas waktu 1×24 jam yang diberikan itu mungkin kita memang harus secepatnya menemukan tempat tinggal sementara tanpa memiliki banyak waktu memilih kontrakan yang akan kita tempati. Kontrakan kita saat ini meski mahal bagi kita, tidaklah baik untuk perkembangan anak kita. Bagaimana kita bisa meminta putri kita untuk mengenakan jilbabnya jika selepas dari pintu yang mereka lihat adalah para wanita tetangga kita yang berada di rumah ketika siang dan meninggalkan rumah menjelang malam, yang mengenakan pakaian tidur minim dan sangat tidak pantas apalagi pada siang hari. Apa yang putra-putri kita lihat adalah contoh yang akan mereka lakukan baik berwarna putih, hijau, merah, atau bahkan hitam sekalipun.

Bidadari kehidupanku, keinginan dan cita-citaku untuk hidup mandiri masih tetap besar dan kokoh seperti dulu. Bahkan cita-cita itu makin terpatri ketika putri pertama kita terlahir ke dunia. Aku ingin anakku melihat bahwa ayahnya adalah orang yang memiliki izzah yang besar yang hanya menggantungkan hidup pada Rabb-nya semata seperti yang dilafadzkan dalam setiap rakaat sholat-sholatnya meski dalam kondisi sulit seperti saat ini. Tapi jangan sampai idealisme kita berubah menjadi egoisme pribadi hingga yang hadir adalah pemaksaan kehendak pada diri sendiri dan orang lain. Idealisme adalah kondisi ideal yang ingin kita raih tapi egoisme bisa mengarahkan kita pada mendzalimi diri kita dan orang lain.

Duhai penyejuk hatiku, aku tetaplah menjadi nahkoda dari bahtera rumah tangga ini. Terkadang aku harus memutuskan bahtera ini untuk sedikit ke Barat atau ke Timur meski Utara yang kita tuju, atau berhenti dan menurunkan jangkar atau mungkin malah harus kembali ke Selatan. Aku tidak mungkin membiarkan sikap egoisku mendominasi, aku tidak mungkin memaksakan bahtera ini untuk terus melaju ke Utara meski ada topan badai yang sangat besar atau batu karang besar di depan mata yang pasti tidak mungkin kita lewati. Aku tidak mungkin menempatkan bahtera ini beserta penumpang di atasnya dalam bahaya yang justru menyebabkan tidak tercapainya tujuan akhir kita. Aku adalah pilot dari pesawat terbang kecil kita yang terkadang harus bermanuver ke Barat atau Timur, terpaksa mendarat di landasan terdekat, kembali ke landasan semula, atau mungkin mendarat darurat dimana juga yang paling baik untuk semuanya. Aku tidak bisa memaksakan kehendak untuk tetap menerbangkan pesawat ini ke Utara dan menempatkan semua penumpang dalam bahaya hanya untuk idealisme yang telah bergeser menjadi egoisme semata. Bahkan mungkin aku harus cepat mengambil keputusan itu tanpa sempat memberitahukan alasannya kepada setiap penumpang. Aku tidak mungkin mendzalimi diri kita dan anak-anak harapan masa depan akhirat kita. Kita masih akan tetap ke Utara meski itu harus tertunda entah untuk berapa lama, tetapi azzam itu masih ada.

Rembulanku, aku terpaksa lebih memilih menerima apa yang sudah ditawarkan daripada harus meminta yang bisa menyulitkan orang lain dan belum tentu tersedia. Aku lebih memilih tinggal bersama kadal, ular sawah, lipan, dan ratusan ulat bulu yang masih memenuhi kebun depan dan belakang rumah yang sudah lama tidak terawat itu daripada harus tinggal dilingkungan yang bisa jadi lebih berbahaya untuk anak-anak kita. Itu memang bukan rumah kontrakan kita sendiri tapi meminta malah akan semakin membuat izzah-ku lebih terhina. Kita pun sudah sepakat untuk tidak akan pernah lagi berhutang. Aku pun menerima tawaran fasilitas tinggal gratis rumah ini dengan berat dan terasa pahit. Tapi aku harus menebar senyum, menyegarkan kepala dan menyingkirkan fikiran-fikiran yang menyesakkan dada. Delapan puluh tiga ribu yang tersisa, entah harus dimana mencari kontrakan di daerah industri seperti ini seharga itu, lalu bagaimana dengan susu dan makanan anak-anak kita, apalagi aku masih belum bisa juga bekerja. …”Ya, Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami…” (QS.3:147)

Maafkan aku, Cinta. Tapi tak usah ragu cita-cita itu masih ada, Sayang… Hasbunallahu ni’mal wakiil, ni’mal mawla wa ni’man nashiir…

 

~Abu Hasan~

<Dari catatan harian seorang teman>

Semoga senyuman dapat selalu hadir dalam hidup mereka. Semoga tawa dan canda putra-putri mereka mampu membuka mata hati seseorang pencinta mereka yang memposisikan mereka dalam kondisi seperti saat ini. Semoga Allah Yang Maha Adil mengangkat mereka sekeluarga dalam syurga-Nya.

Yaa Rabbi, bagaimana mungkin…

Perlahan-lahan kehidupan ini mulai dapat kami nikmati, ‘enjoy your life‘ kata orang disana. Masalah-masalah yang mengejar memang tak pernah hilang atau berhenti barang sejenak. Masalah itu masih ada, tak akan hilang sampai kami sendiri yang menyelesaikannya, tak bisa berharap dari orang lain meski sebenarnya masalah itu tanggung jawab bersama. Solusi yang realistis belum juga muncul, kami harus menanggung hutang yang tidak pernah kami cicipi wujudnya. Mencari kerja masih terus diupayakan, apapun lowongannya. Memulai usaha sendiri praktis hampir mustahil tanpa ada sedikit pun modal yang kami miliki apalagi kami telah berkomitmen tidak akan pernah lagi berhutang untuk alasan apapun. Satu per satu panggian interview datang tanpa ada hasil yang jelas, mulai dari lowongan asli dari perusahaan bonafide sampai perusahaan ‘penipu’ yang berusaha mencari nasabah/investor untuk transaksi valasnya dengan berkedok membuka lowongan pekerjaan, kami datangi.

Life is not easy‘, memang hidup itu akan terasa berat jika kita tidak pernah tahu apa tujuan hidup ini. Ibarat orang berjalan ditengah gurun yang terik tanpa pernah tahu kea rah mana tujuannya, sejauh mata memandang hanya hamparan pasir yang ada. Terik sinar matahari makin menampakkan betapa tidak bersahabatnya kehidupan diluar sana dengan diri kita. Hingga hidup seperti hanya sekedar untuk mengejar oase-oase fatamorgana yang tampak rindang dan sejuk tapi hilang seketika kita sampai disana. Mata air-mata air palsu bualan penglihatan manusia tak mampu menebus dahaga yang ada.

Tapi kami punya tujuan hidup. Beribadah, that’s all. Hanya karena alasan itu kenapa kami diciptakan di dunia ini dan hanya karena alasan itu pulalah sehingga kami masih ada di dunia saat ini. Hingga kami harus senantiasa bersyukur ketika diri ini masih dimampukan untuk beribadah kepada-Nya. Seorang telah banyak mengingatkan kami akan hal ini, pada masa-masa yang tidak cukup mudah bagi kami saat ini. Saat segala keterbatasan melingkupi kehidupan kami, meski kami tak akan pernah mengatakan bahwa saat ini kami sedang mengalami ‘kekurangan’. Sungguh Allah SWT telah mencukupi rizqi untuk kami meskipun bagi sebagian orang kondisi kami berkekurangan. Rabb kami pasti memiliki rencana besar di balik semua ini, Dia pasti telah memiliki rasio dan rumusan yang pasti benar atas ‘jatah’ rizqi kami di dunia ini. Jikapun suatu saat telah habis, maka itulah giliran kami menghadap-Nya untuk mengharap bentuk cinta-Nya yang lain di akhirat nanti.

Hari ini memang seperti hari lainnya, hanya saja dana yang seharusnya digunakan untuk makan sehari-hari harus berkurang alokasinya karena aku gunakan untuk ongkos ke Jakarta memenuhi panggilan interview sebuah perusahaan pagi tadi. Seperti biasa pula kami makan bersama-sama, aku, bidadariku tercinta, dan kedua penyejuk hati kami, Salsabila dan Azzam. Dua piring nasi dengan warna hitam dari kecap yang sangat mewarnai telah disiapkan. Memang itu yang menjadi favorit kami saat ini, malah terkadang meski lauk masih ada Salsabila dan Azzam tetap minta suapan nasi kecap tanpa lauk. Bergantian mereka minta disuapkan entah dari aku atau sang bunda, yang posisinya paling dekat dengan mereka. Alhamdulillah hingga pada paruh terakhir nasi di piring tersisa, mulut-mulut mungil mereka masih tetap terbuka. Tapi rupanya kali ini keaktifan bermain mereka membutuhkan energi cukup besar sehingga mereka makan cukup lahap. Yaa Rabbi, bagaimana mungkin tanganku menyuapkan nasi ke mulutku sementara mulut-mulut mungil mereka masih terbuka lebar… yaa Rabbi, bagaimana mungkin diri ini tega mengharapkan masih akan tersedia sisa nasi dari mereka setelah mereka kenyang nanti. Yaa Rabbi, aku percaya bahwa diri ini telah Engkau berikan rizqi tersendiri, Engkau Maha Kuasa sehingga aku tak akan pernah bisa mengetahui cara-Mu menyampaikan rizqi kepadaku.

Yaa Rabbi, ampunilah hamba-Mu ini, yang sering tak mampu menyadari, istriku tercinta pasti lebih sering mengalami hal ini. Mulutnya tetap mampu berkata kenyang meski lambungnya berteriak lapar. Beberapa sendok nasi tambahan yang kuselipkan sembunyi-sembunyi pasti tak akan cukup membungkam teriakan lapar lambungnya. Yaa Rabbi, ampunilah hamba-Mu ini.

Subhanallah…ternyata masih ada beberapa sendok nasi tersisa. Maha Besar Allah SWT yang telah membuat lambung ini tak lagi perih. Alhamdulillah karena rasa lapar itu telah hilang. Laa hawla walaa quwwata illa billah…

 

~Abu Hasan~

<Dari catatan harian seorang teman>

Semoga dengan kesabarannya Allah SWT menghapuskan dosa-dosanya dan dengan kesyukurannya Allah SWT tambahkan rizqi untuknya. Semoga Allah SWT juga membukakan pintu hidayah kepada orang-orang yang menjadikannya seperti sekarang ini…

Lihat pohon pisang yuk, Dek? Bagus dech…

“Dek, kita keluar yuk? Lihat pohon pisang yuk, Dek? Bagus dech…”. Senyuman pun tersungging di bibirku saat mendengar kata-kata putriku paling besar yang kini berusia tiga tahun mengajak bermain adiknya yang berusia 1 tahun 4 bulan. Bukan lagi mengajak berkuda dengan kuda putih kesayangannya yang biasa dia lakukan setiap pekan, bermain pasir dan jungkat-jungkit yang hampir setiap hari dia lakukan, bukan juga seluncuran atau ayunan yang setiap saat bisa dimainkan, bahkan bukan juga odong-odong, timezone, atau mainan berkoin lainnya. Kata-kata itu spontanitas keluar dari mulutnya tatkala saya dan dia diminta oleh sang bunda untuk mengajak bermain si adik agar tidak mengganggu rutinitas sang bunda tercinta mencuci pakaian. Kami patut besyukur karena putra-putri kami mampu cepat menyesuaikan diri dengan kondisi kami saat ini. Tawa canda dan senyum manis mereka tak lekang seiring hilangnya segala fasilitas yang kami miliki beberapa waktu yang lalu. Bermain di kebun sebelah rumah kontrakan dan menyusun sandal-sepatu pun menjadi hiburan ala kadarnya bagi mereka.

Rengekan menonton koleksi VCD pendidikan hadiah gratis sebuah produk susu bubuk pun hanya beberapa kali muncul ketika kerinduan dan kebosanannya sedang memuncak. Hal yang sangat wajar dilakukan seorang anak. Bahkan sesekali sang kakak menyebut guru-guru dan teman-teman di kelas play groupnya, mengulang lagu berwudhu, bermacam-macam do’a, permainan tepuk, dan pelajaran yang lainnya. Bahkan sang kakak pernah menyebut nama bekas supir kami ketika kami membicarakan rencana mencukur rambut kepala si adik. Keterbatasan ini memang membuat kami jauh dari kehidupan kami dahulu. Tapi rasa syukur harus selalu kami ucapkan karena dibalik tangis rengek mereka yang terpenting tawa dan canda mereka mampu hadir dalam keseharian kami. Karena tawa mereka adalah penyemangat hidup kami, canda mereka pembangkit gelora hidup kami yang nyaris padam dengan segala cobaan ini.

Di balik kisah di awal tadi saya sempat bertanya pada sang kakak, “memangnya kakak pernah main ke pohon pisang itu?”. “Belom…”, jawab sang kakak. Saya pun berujar,” koq bisa bilang pohon pisangnya bagus..?”. Hmmm… :)

~Abu Hasan~

<Dari catatan harian seorang teman>

Semoga senyuman dapat selalu hadir dalam hidup mereka. Semoga tawa dan canda mereka mampu membuka mata hati seorang pencinta mereka yang memposisikan mereka dalam kondisi seperti saat ini.

Belajar Mensyukuri

Malam itu adalah malam yang kesekian kami dalam perantauan. Kali itu adalah kali kesekian kami membeli hanya sekedar nasi putih mengingat masih ada sisa lauk dari santap siang tadi. Kali sekian pula kami membeli 2 bungkus nasi seharga 2 ribu rupiah per bungkus ditambah senyuman sambil berharap hilang sedikit suntuk dari ibu pemilik warung untuk makan malam saya, istri, dan 2 anak kami. Dalam situasi sulit seperti ini kami memang harus efisien dalam mengelola rizki yang kami peroleh saat ini.Biasanya jatah dua bungkus itu bisa kami bagi untuk 4 orang, biasanya pula lauk untuk jatah satu kali makan bisa kami bagi menjadi 2 atau 3 kali makan dengan besarnya dominasi nasi putih dalam setiap suapannya. Bagaimana bisa? Ya tentu bisa dan harus bisa! Hal ini pun tidak pernah terbayang akan kami lakukan beberapa minggu yang lalu saat semuanya masih begitu mudah kami dapatkan atau telah tersedia sebelum kami minta bahkan tidak jarang kami sering memilih yang sesuai mood selera saat itu. Ini lah rizqi yang Allah SWT limpahkan saat kami harus banyak bersabar, kemudahan untuk membagi makanan itu untuk keluarga kami.

Eiits..tapi tunggu dulu, cerita itu bukan untuk menarik simpati Anda, kami masih mampu tersenyum. Kami sadar masih jauh lebih banyak orang yang lebih sulit dari kami, bahkan sekedar untuk memenuhi makan satu kali dalam sehari. Sedangkan kami bahkan masih bisa mengirim tulisan meski melalui koneksi internet gratisan. Terlalu banyak daftar hal-hal yang patut kami syukuri meski ditengah kesulitan yang kami hadapi saat ini. Sungguh benar apa yang telah Allah SWT katakan, “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS.94:5-6). Kemudahan tidak hadir setelah kesulitan berlalu, tapi ia datang bersamaan dengan kesulitan yang datang. Hanya terkadang kita tidak mampu menyadari dan begitu terlarut dalam kesulitan yang dihadapinya.

Kami berusaha untuk belajar bersyukur dengan keadaan ini. Keadaan dimana kami sering dipesankan untuk bersabar oleh orang-orang yang mencintai kami. Memang sedikit sulit tapi itu bisa dilakukan. Posisi ini mungkin kurang lebih sama seperti ketika kita harus mengalah dan berlapang dada atas kesalahan orang lain meskipun sebenarnya yang kita lakukan adalah benar. Orang lain mungkin merasa kami ‘berhak’ untuk bersabar atas kondisi sulit saat ini. Tapi kami ingin bersyukur atas kondisi ini. Karena kami yakin dengan sepenuh hati, bahwa ini adalah kondisi yang telah Allah SWT tentukan untuk kami karena tiada ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang tanpa seizin-Nya.

Malam itu kami memang mendapatkan penolakan dari ibu yang ramah pemilik warung itu untuk memperoleh 2 bungkus nasi sehingga kami harus membeli di warung lain yang berjarak lebih jauh. Dan pagi ini sekali lagi kami harus melangkah lebih jauh lagi untuk dapat membeli 2 bungkus nasi putih untuk mengisi kembali tenaga guna memulai beraktifitas hari ini sambil kami berharap akan kehadiran rice cooker atau kompor untuk menanak nasi di rumah kontrakan mungil kami.

 

~Abu Hasan~

<Dari catatan harian seorang teman>

Semoga dengan kesabarannya Allah SWT menghapuskan dosa-dosanya dan dengan kesyukurannya Allah SWT tambahkan rizqi untuknya. Semoga Allah SWT juga membukakan pintu hidayah kepada orang-orang yang menjadikannya seperti sekarang ini..

Kebaikan Tidak Pernah Menyakitkan

Dalam suatu diskusi lepas malam, seorang anak muda menanyakan kepada sang Guru, “Guru, seringkali saya bertanya pada diri sendiri, apakah yang saya lakukan ini adalah baik.” Lanjut pemuda tadi, “lalu bagaimana cara saya mengukur apakah perbuatan yang saya lakukan itu baik atau tidak?”. Saya pun berkaca pada pemuda tadi. Memang terkadang manusia menjadi begitu egois dan dengan mudahnya mengeluarkan ribuan alasan dan memfatwakan bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu baik. Sebuah perbuatan yang menjijikkan, mencari pembenaran atas suatu perbuatan buruknya. Malah terkadang nurani pun dibantah dan disembunyikan. Atau dalam kondisi lain yang sejenis tapi tak sama, adalah ketika seseorang yang tidak tahu/sadar dirinya melakukan perbuatan yang tidak baik dan menganggap mereka melakukan perbuatan baik –menurut versi dirinya atau teman-teman dekatnya–. Tapi sayangnya mereka tidak mau belajar dan berusaha mencari tahu apakah perbuatan mereka itu baik atau tidak.

Sang Guru pun dengan sabar menerangkan, “suatu kebaikan jika secara kasat mata bisa dilihat, apakah mayoritas orang-orang menilai perbuatan tersebut adalah perbuatan baik. Apakah mereka merasakan dampak kebaikan dari perbuatan tersebut.” Pemuda tadi pun terdiam sambil merenung kembali apakah perbuatan-perbuatan yang selama ini dia anggap kebaikan itu juga dianggap kebaikan oleh mayoritas orang lain disekitarnya.

Lalu bagaimana dengan imunisasi, bukankah itu perbuatan itu baik tapi tampak menyakitkan bagi sang bayi? Coba kita sedikit berhitung berapa detik rasa sakit yang dirasakan ketika jarum suntik menusuk kulitnya, tapi berapa tahun imunisasi itu bisa memberikan perlindungan bagi diri sang bayi. Anda juga bisa mencoba bertanya kepada para orang tua sekitar kita tentang imunisasi tersebut apakah yang kita lakukan kepada bayi kita adalah perbuatan yang tidak baik. Saya pernah dalam posisi yang sulit ketika akan melakukan suatu perbuatan kepada rekan bisnis sehingga mengambil sikap ‘biarlah cukup hanya DIA yang tahu bahwa saya melakukan hal ini adalah untuk kebaikan meskipun terlihat oleh orang lain hal itu justru tidak baik bagi rekan saya tersebut’. Dan kemudian ternyata belakangan saya menyaksikan bahwa tidak ada kebaikan yang rekan saya rasakan dari perbuatan yang saya lakukan. Saya jadi telah salah tafsir atas perbuatan saya.

Bingung? Begitu pun saya. Meski demikian bagi saya setidaknya ada landasan saya sebelum melakukan suatu perbuatan:

  1. Apakah perbuatan yang saya lakukan jelas bertentangan larangan Tuhan (dengan segala keterbatasan keilmuan kita) atau tidak.
  2. Fiqh Awliyat (Fiqh Prioritas – buku karangan Dr.Yusuf Qaradhawi), menghindarkan diri dari melakukan perbuatan yang dilarang-Nya lebih didahulukan daripada melakukan apa yang diperintahkan-Nya.
  3. Mengevaluasi manfaat atau mudharat yang lebih banyak dihasilkan dari perbuatan saya itu.
  4. Menanyakan pada nurani (dengan melepas semua atribut egoisme dan kepentingan pribadi) apakah itu adalah sebuah perbuatan baik. Hati itu pun adalah hati yang senantiasa taqarrub ilallah (mendekatkan diri pada Allah SWT), sehingga pertimbangannya adalah pertimbangan robbani, Rabb pencipta segala kebaikan. Karena kebenaran memang mutlak hanya berasal dari-Nya, sedangkan salah dan khilaf adalah dari manusia semata.
  5. The last not the least, berdo’a pada-Nya agar diri ini terlindung dari melakukan perbuatan yang buruk dan memohon petunjuk-Nya untuk dapat selalu melakukan kebaikan.

Anda punya tambahan masukan?

~Abu Hasan~

Mengenang seorang rekan yang telah di’angkat’ menjadi ‘professor’ bidang keahlian antah berantah, semoga Allah SWT memberikan hidayah padanya.

Untukmu Wahai Saudaraku…

Akhi, dulu ana merasa semangat saat aktif dalam dakwah. Tapi belakangan rasanya semakin terasa hambar. Ukhuwah makin kering, bahkan ana melihat ternyata banyak ikhwah banyak pula yang aneh-aneh.” Begitu keluh kesah seorang mad’u (murid) kepada murabbi (guru) nya di suatu malam. Sang murabbi hanya terdiam, mencoba terus menggali semua kecamuk dalam diri mad’u-nya. “Lalu apa yang ingin antum (kamu) lakukan setelah merasakan semua itu?” Sahut sang murrabi setelah sesaat termenung. “Ana ingin berhenti saja, keluar dari tarbiyah ini. Ana kecewa dengan perilaku beberapa ikhwah yang justru tidak islami. Juga dengan organisasi dakwah yang ana geluti; kaku, dan sering mematikan potensi anggota-anggotanya. Bila begini terus, ana lebih baik sendiri saja.” Jawab ikhwah itu.

Sang murabbi termenung kembali. Tak tampak raut terkejut dari roman wajahnya. Sorot matanya tetap terlihat tenang, seakan jawaban itu memang sudah diketahuinya sejak awal. “Akhi, bila suatu kali antum naik sebuah kapal mengarungi lautan luas. Kapal itu ternyata sudah bobrok. Layarnya banyak berlubang, kayunya banyak yang keropos, bahkan kabinnya bau kotoran manusia. Lalu apa yang antum lakukan untuk tetap sampai pada tujuan?” Tanya seorang murabbi dengan kiasan bermakna dalam. Sang mad’u terdiam berpikir.Tak kuasa hatinya mendapat umpan balik sedemikian tajam dengan kiasan yang amat tepat. “Apakah antum memilih untuk terjun ke laut dan berenang sampai tujuan?” Sang murabbi mencoba memberi opsi. “Bila antum terjun ke laut, sesaat antum akan merasa senang. Bebas dari bau kotoran manusia, merasakan kesegaran air laut, atau bebas bermain dengan lumba-lumba. Tapi itu hanya sesaat. Berapa kekuatan antum untuk berenang sampai tujuan? Bagaimana bila hiu datang? Dari mana antum mendapat makan dan minum? Bila malam datang bagaimana antum mengatasi hawa dingin?”

Serentetan pertanyaan dihamparkan dihadapan sang ikhwah tersebut. Tak ayal, sang ikhwah menangis tersedu. Tak kuasa hatinya menahan kegundahan sedemikian. Kekecewaannya kadang memuncak, namun sang murobbi yang dihormatinya justru tak memberi jalan keluar yang sesuai dengan keinginannya. “Akhi, apakah antum masih merasa bahwa jalan dakwah adalah jalan yang paling utama menuju ridho ALLAH SWT?” Pertanyaan yang menohok ini menghujam jiwa sang ikhwah. Ia hanya mengangguk.” Bagaimana bila ternyata mobil yang antum kendarai dalam menempuh jalan itu ternyata mogok? Antum akan berjalan kaki meninggalkan mobil itu tergeletak di jalan, atau mencoba memperbaikinya? ” Tanya sang murabbi lagi. Sang ikhwah tetap terdiam dalam seunggukan tangis perlahannya. Tiba-tiba ia mengangkat tangannya; “Cukup akhi, cukup. Ana sadar. Maafkan ana, InsyaALLAH ana akan tetap istiqomah. Ana berdakwah bukan untuk mendapat medali kehormatan. Atau agar setiap kata-kata ana diperhatikan. “Biarlah yang lain dengan urusan pribadi masing-masing. Biarlah ana tetap berjalan dalam dakwah. Dan hanya ALLAH saja yang akan membahagiakan ana kelak dengan janji-janji- NYA. Biarlah segala kepedihan yang ana rasakan jadi pelebur dosa-dosa ana.” Sang mad’u berazzam dihadapan sang murabbi yang semakin dihormatinya.

Sang murabbi tersenyum. “Akhi, jama’ah ini adalah jama’ah manusia. Mereka adalah kumpulan insan yang punya banyak kelemahan. Tapi dibalik kelemahan itu, masih amat banyak kebaikan yang mereka miliki. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menyambut seruan Allah untuk berdakwah. Dengan begitu mereka sedang berproses menjadi manusia terbaik pilihan ALLAH SWT.” “Bila ada satu dua kelemahan dan kesalahan mereka, janganlah hal itu mendominasi perasaan antum. Sebagaimana ALLAH Ta’ala menghapus dosa manusia dengan amal baik mereka, hapuslah kesalahan mereka di mata antum dengan kebaikan-kebaikan mereka terhadap dakwah selama ini. Karena di mata ALLAH, belum tentu antum lebih baik dari mereka.”

“Futur, mundur, atau bahkan berpaling menjadi lawan bukanlah jalan yang masuk akal. Apabila setiap ketidakkesepakatan selalu disikapi dengan jalan itu; maka apakah dakwah ini dapat berjalan dengan baik?” Sambungnya panjang lebar. “Kita bukan sekedar pengamat yang hanya bisa berkomentar. Atau hanya pandai menuding-nuding sebuah kesalahan. Kalau hanya itu orang kafir pun bisa melakukannya. Tapi kita adalah da’i. Kita adalah khalifah. Kitalah yang diserahi amanat oleh ALLAH untuk membenahi masalah-masalah dimuka bumi. Bukan hanya meng”ekspose” nya, yang bisa jadi justru semakin memperuncing masalah.” Sang mad’u termenung sampai merenungi setiap kalimat murabbinya. Azzamnya memang kembali menguat. Namun ada satu hal yang tetap bergelayut di hatinya. “Tapi bagaimana ana bisa memperbaiki organisasi dakwah dengan kapasitas ana yang lemah ini?” Sebuah pertanyaan konstruktif akhirnya muncul juga. “Siapa bilang kapasitas antum lemah? Apakah ALLAH mewahyukan begitu kepada antum? Semua manusia punya kapasitas yang berbeda. Namun tak ada yang bisa melihat bahwa yang satu lebih baik dari yang lain!”. Sahut sang murabbi. “Bekerjalah dengan ikhlas. Berilah tausyiah dalam kebenaran, kesabaran dan kasih sayang pada semua ikhwah yang terlibat dalam organisasi itu. Karena peringatan selalu berguna bagi orang yang beriman. Bila ada sebuah isu atau gossip, tutuplah telinga antum dan bertaubatlah. Singkirkan segala bakhil antum terhadap saudara antum sendiri. Dengan itulah Bilal yang mantan budak hina menemui kemuliaanya. ” Malam itu sang mad’u menyadari kesalahannya. Ia bertekad untuk tetap berputar bersama jama’ah untuk tetap mengarungi jalan dakwah.

Kembalikan semangat itu saudaraku, jangan biarkan asa itu hilang, ditelan gersangnya debu yang menerpa. Biarlah itu semua menjadi saksi sampai kita diberi dua kebaikan oleh ALLAH SWT : Kemenangan atau Mati Syahid. Ikhlas adalah ruh dari setiap amal. Ikhlas adalah motivasi yang kuat agar amal kita tetap terjaga berlanjut, tidak usang karena kepanasan dan tidak luntur karena kehujanan,tidak ghurur karena pujian, dan tidak prustasi karena cacian. Terus bergerak kearah tujuan yang paling puncak dari cita-cita. Melihat sesuatu yang paling indah dibalik setiap amal, selalu mampu menghadirkan sang Kholiq yang tak pernah salah dalam menilai.

(DR. M Adih Amin, M. Dosen STAI BANI SALEH)

~Abu Hasan~

AYAH adalah CINTA

Dan Zahar pun menangis. Air matanya menetes sedih mengalir hingga membasahi bulu janggutnya. Kamera para wartawan segera menangkap peristiwa itu. Mereka menganggap, inilah momentum pertama kali mereka melihat sosok pimpinan Hamas sekaliber Mahmud Zahar menangis.

…Seorang wartawan yang melihatnya tak terasa juga menitikkan air mata dan menelepon rekannya lalu mengatakan lirih, “Zahar menangis.. “…

“Kami memberikan semua para syuhada. Ini bukanlah kebanggaan. Karena hati kami bukanlah batu. Kami adalah para orang tua dan kami mengetahui serta merasakan bagaimana duka kehilangan anak. Tapi karena Palestina itu mahal dan surga pun lebih mahal. Karena kemerdekaan dan kemuliaan lebih mulia daripada hidup bertahun-tahun di bawah pendudukan Zionis Israel.”

=======

Sungguh sangat menggetarkan hati dan memancing mengalirnya bulir-bulir halus dipelupuk mata membaca sebuah artikel berita disini. Cerita tentang sesosok ayah yang tegas dan keras menitikkan air mata ketika harus melepaskan sang putra tercinta. Terasa sangat kecil diri ini dibandingkan mereka, para ayah yang tegar. Sungguh hanya surga yang pantas jadi balasannya. Seorang ayah tetaplah seorang ayah betapa pun tegas dan kerasnya dia, butiran halus cintanya tetaplah mengalir ketika harus kehilangan buah hatinya. Mereka bisa menjadi seganas singa didepan musuh-musuhnya, bisa menjadi sekeras karang dengan prinsip-prinsip yang dipercayainya, mereka bisa sangat tegas dengan segala aturannya tapi mereka pun bisa menjadi sesejuk dan sehalus embun bagi keluarganya.

Nabi Ibrahim a.s. adalah seorang yang tegas dengan keimanannya, ia mampu hancurkan semua berhala kaumnya yang berada disekitar ka’bah. Tapi beliau pun tak mampu memalingkan muka ketika harus meninggalkan istri dan anaknya tercinta di bentangan gurun panas tanpa makanan dan minuman demi menjalankan perintah Rabb-nya. Rasulullah SAW, bisa sangat tegas dengan aturan yang ditegakkannya, bahkan berjanji beliau sendiri yang akan memotong tangan putrinya jika suatu saat terbukti mencuri. Tapi beliau pun bisa tidak tega ketika harus memutus kesenangan bermain (bahkan bisa mencelakakan) Hasan dan Husain waktu bermain dipundaknya saat beliau sedang bersujud untuk sholat. Itu hanya satu dari sekian banyak kisah berkasih sayang yang ditunjukkan para kekasih Allah SWT tersebut.

Mereka adalah ayah-ayah yang HEBAT. Mereka mampu memainkan setiap perannya, mereka mampu menyembunyikan perasaan dan egoisme pribadi demi sebuah kepentingan yang jauh lebih besar. Mereka bukanlah tidak pernah atau jarang menangis, tapi mereka mampu menyembunyikan tangis itu demi kebaikan. Tangis mereka tak pernah terdengar, karena memang cukup DIA-lah yang menjadi pendengarnya. Karena memang hanya DIA, Sang Maha Kuasa, yang kelak mampu merubah tangis itu menjadi senyum dan tawa. Mereka bukanlah orang yang suka mengumbar berita duka, mereka berusaha tetap menebar senyum meski hati dan raga harus teriris sakit atau tertuang rasa lelah. Merekalah sosok ayah yang mengetahui sebenarnya arti CINTA…

 

~Abu Hasan~

Untuk almarhum ayah tercinta yang mau menahan sakitnya cuci darah demi menunggu wisuda putra bungsunya ini, hingga Allah SWT memanggilnya hanya sebulan setelah aku wisuda. Juga untuk semua ayah-ayah HEBAT di muka bumi ini. Allahumaghfirlii waliwadayya warhamhumaa kamaa robbayaani shoghiroo…

Pak Harto – Hidup Enggan Mati Pun Tak Boleh

Hampir setiap jam semua TV swasta di Indonesia melaporkan perkembangan terakhir tentang seorang kakek tua bekas Presiden di republik ini dari Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta. Ditengah kebencian atas perbuatan salah yang dilakukannya (bukan dengan personal) selama menjadi orang nomor satu di Indonesia, tetap saja aku menjadi kasihan melihat sesosok tubuh tua yang telah layu nan renta tergeletak tanpa daya, dengan berbagai macam alat penopang hidup, dan nafas tersengal-sengal. Seorang manusia yang seharusnya lebih disibukkan dengan berbagai macam ibadah dan permintaan ampun dalam rangka persiapannya menghadap Sang Hakim Yang Maha Adil. Kondisinya saat ini bisa diibaratkan Hidup Enggan Mati Pun Tak Boleh. Bukan tak mau mati karena jika saja dibolehkan, manusia renta pemilik tubuh yang sakit-sakitan tentu lebih memilih mengakhiri rasa sakitnya agar tidak lagi tersiksa dan menyusahkan orang-orang sekitar yang mencintainya.

Kasihan. Dengan kondisi demikian, masih saja Pak Harto masih menjadi konsumsi politik. Kondisi kesehatan Pak Harto saat ini seakan menjadi ajang pemanasan kampanye sebelum Pemilu 2009. Mulai dari ‘bekas‘ kroni sampai musuh besarnya, sekarang ikut memberikan perhatian kosong demi mencari simpati dari Soeharto, keluarga, dan orang-orang yang masih mendukungnya. Seakan Pak Harto tidak boleh dulu mati sebelum pemilu. Tidak bisa dipungkiri, demikian banyak harta yang dimiliki Soeharto dan keluarganya. Juga tidak bisa dipungkiri agak lumayan banyak orang-orang yang masih mendukungnya. Tak cuma dana, dukungan suara pun mereka incar untuk Pemilu 2009. Mulai dari yang masih malu-malu sampai memalukan..! Mulai dari sekedar mengirimkan karangan bunga, datang menjenguk, sampai berkoar-koar melalui media supaya proses hukum Soeharto dikesampingkan dulu atau dihentikan saja, bahkan ada yang mengaku-ngaku dititipi negeri ini oleh Soeharto..??

Padahal beliau juga pastinya ingin dimaafkan atas segala dosa dan kekhilafannya. Tapi untuk menuju itu semua proses hukum tetaplah harus dijalankan. Janganlah lagi menyiksa seorang tua renta yang sakit-sakitan dengan menggantung status hukumnya. Jika tidak bersalah maka ditetapkanlah, begitu juga jika memang bersalah maka ditetapkanlah apa saja yang menjadi kesalahannya. Jika pun diputuskan bersalah, toh dengan kondisi yang demikian tidak mungkin menghukum badan Pak Harto. Bangsa Indonesia juga bisa dengan legowo memaafkannya. Masalah Perdata ato ‘harta gono-gini‘ bisa cingcai lah, selama bagian terbesar dialokasikan buat kepentingan rakyat Indonesia.

Apa yang terjadi saat ini, kroni-kroni Pak Harto berharap status hukumnya bisa dilupakan, terkuburkan, bersama jasadnya agar mereka yang masih sehat tidak ikut terjerat sebagai orang yang bersalah. Itu pun masih dengan syarat, Pak Harto boleh meninggalkan dunia ini setelah mewarisi harta dan dukungan suaranya untuk kepentingan mereka kedepan (Pemilu & Pilpres 2009, dan lainnya). Mereka masih saja mengambil kesempatan dalam kesempitan, menggerogoti dan menghisap darah dari sesosok tubuh tua renta yang tak lagi berdaya yang hanya menginginkan istirahat bagi tubuhnya. Tidakkan kita semua juga memiliki orang tua, dimana kita harus menghormati dan bersikap adil kepada mereka.

~Abu Hasan~

Refleksi Akhir Tahun – Ketika Musibah itu Datang Bersamaan

Ya Rabb kami, sungguh kami telah mendzalimi diri kami sendiri, dan hanya kepada-Mu lah kami memohon ampunan. Kasihilah kami, mudah-mudahan kami termasuk orang-orang yang berserah diri..

Muhasabah (evaluasi diri), kegiatan dengan menggunakan kata tersebut sering muncul di penghujung tahun. Memang tidak seharusnya muhasabah hanya dilakukan secara seremonial pada waktu-waktu tertentu saja tapi setiap saat dan sesering mungkin sedapatnya kita lakukan evaluasi diri ini atas setiap tindakan yang kita lakukan dan setiap kalimat atau kata yang kita ucapkan sebelum Sang Maha Adil mengevaluasi diri kita di hari akhir nanti. Tapi mungkin saat ini cukup tepat bagi diri ini melakukan muhasabah. Bukan karena akan adanya pergantian tahun, tapi karena begitu banyaknya musibah yang melanda negeri ini. Bukan hanya para pemimpin dan pembuat kebijakan sebagai pengelola negara ini yang harus muhasabah atas setiap kebijakan yang diterapkan negara ini, tapi kita sebagai salah satu (meski sekecil apapun) elemen bangsa juga harus muhasabah atas apa yang telah kita lakukan selama ini.

Banjir dan longsor di Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur (Solo, Karanganyar, Bojonegoro, Ngawi, dll), Sumatera bagian barat, dan tempat-tempat lain harusnya cukup membuat diri ini menangis menanyakan apa gerangan yang telah bangsa ini lakukan hingga ini semua terjadi bahkan bersamaan di penghujung tahun ini. Suatu cobaan, peringatan atau adzab kecil dari-Nyakah ini? Betapa sesungguhnya Allah SWT Maha Pengasih dan Penyayang dan telah memberikan sebuah jalan yang lurus, tapi malah manusia yang telah mendzalimi dirinya sendiri baik secara sadar atau memang sengaja tidak ingin menyadari hal itu. Apakah yang telah kita lakukan telah sesuai dengan yang digariskan-Nya? Ataukah masih sedemikian besarkah ego diri ini untuk sekedar menyelamatkan diri sendiri tanpa memperhatikan dan mengingatkan orang-orang disekitar kita ketika mereka telah keluar dari jalur yang telah ditetapkan-Nya dan segera menabrak dinding kenistaan. Adzab dapat menimpa suatu kaum meskipun masih terdapat orang-orang sholeh diantara mereka ketika kedzaliman begitu mendominasi dan mewarnai kaum tersebut.

Sebuah garis hitam atau sebuah bidang hitam pastinya terdiri dari ribuan bahkan jutaan titik-titik hitam kecil. Kita harus muhasabah apakah diri ini telah ikut mewarnai kelamnya negeri ini atau kita telah (setidaknya berusaha) mencerahkan negeri ini.

Ya Rabb yang Maha Pengampun, ampunilah kami atas semua dosa-dosa yang telah kami perbuat selama ini, dan masukkanlah aku bersama orang-orang yang istiqomah di jalan-Mu..

Abu Hasan

~sambil merenungi RENSTRAGA (rencana strategis keluarga) kami dan pencapaian targetnya~