

Kira-kira siapa yang punya ide (cemerlang?) itu yah? Tukang becaknya? Inisiatif anak-anak itu sendiri? atau orang tua-orang tua mereka yang kebetulan tinggal berdekatan? 8 anak satu becak? mudah-mudahan saja ini tidak termasuk pelanggaran HAM atau kejahatan atas kemanusiaan.. ![]()
=======
Jakarta. Apa yang terlintas di pikiran kita ketika mendengar nama tersebut? Macet, banjir, ibukota, tempat bekerja, dll. Iya, macet di Jakarta seperti gak ada habisnya. Bagi orang BoDeTaBek yang bekerja di Jakarta, sejak dari pagi keluar rumah sampai kantor lalu kembali lagi pulang malam hari, lebih dari 30% waktunya dihabiskan dalam perjalanan. Terkadang orang yang pergi karena ada urusan ke suatu tempat di Jakarta lebih banyak menghabiskan waktunya di jalanan daripada urusan itu sendiri. Saya sendiri pernah ada meeting dengan klien di Gatot Subroto yang hanya membutuhkan waktu kurang dari satu jam, tapi memerlukan waktu tiga jam dalam perjalanan!
Liputan di TV dan media cetak sebulan terakhir ini cukup banyak menyoroti masalah kemacetan di Jakarta yang semakin ruwet tanpa bisa dikendalikan dan bertambah parah dengan adanya pembangunan beberapa jalur koridor busway. Bahkan pernah ditayangkan penghitungan berapa milyar kerugian materil per hari Jakarta karena kemacetan. Di balik semua itu sempat terselip harapan semoga kesulitan di hulu akan berakhir kesenangan ketika sampai ke tepian. Tapi melihat fenomena Busway sampai sekarang di beberapa koridor yang di bangun pada awal-awal, harapan itu pun perlahan mulai pupus. Tingkat kenyamanan yang dijanjikan pun hilang. Sebuah busway yang penuh sesak pun jadi pemandangan yang biasa, hampir tidak ada bedanya lagi dengan bis kota pada umumnya. Ketepatan waktu yang jadi andalan pun seakan hanya lip service saat awal pembangunan koridor busway.
Entah apalagi solusi untuk kemacetan di Jakarta tersebut. Sudah banyak ahli yang berkomentar, tapi lebih banyak sebatas wacana/teori. Bahkan seseorang dengan kumis kebanggaan yang mengaku ahli dan berpengalaman menangani Jakarta seperti hilang entah kemana. Tapi juga harus diingat kalau kemacetan ini juga andil dari sebagian besar kita yang mengaku penduduk Jakarta yang pada Pilkada kemarin menggunakan hak suaranya untuk memilih beliau (yang notabene incumbent dan “berpengalaman” turut menjadikan kondisi Jakarta menjadi seperti ini) untuk kembali memimpin Jakarta kita. Dangdutan tiga malam plus sticker dengan doorprice yang tidak seberapa mengakibatkan kesengsaraan selama 5 tahun?! Semoga saja Allah SWT memberikan jalan yang terbaik dan hal itu bisa jadi pelajaran masyarakat di daerah lain untuk lebih membuka mata dan hatinya dalam memilih pemimpinnya. Meski demikian karena melalui pemilihan yang demokratis, siapapun yang Anda pilih saat pilkada lalu, Anda harus tetap membantu (at least membantu mengingatkan) pelaksanaan program-program beliau yang positif dan membangun untuk kebaikan masyarakat Jakarta pastinya.
16 Desember 2007
~Abu Hasan~
Filed under: Uncategorized | Tagged: jakarta, kemacetan, macet, masal, mass, pollutant, polusi, transport, transportasi











