Pak Harto – Hidup Enggan Mati Pun Tak Boleh

Hampir setiap jam semua TV swasta di Indonesia melaporkan perkembangan terakhir tentang seorang kakek tua bekas Presiden di republik ini dari Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta. Ditengah kebencian atas perbuatan salah yang dilakukannya (bukan dengan personal) selama menjadi orang nomor satu di Indonesia, tetap saja aku menjadi kasihan melihat sesosok tubuh tua yang telah layu nan renta tergeletak tanpa daya, dengan berbagai macam alat penopang hidup, dan nafas tersengal-sengal. Seorang manusia yang seharusnya lebih disibukkan dengan berbagai macam ibadah dan permintaan ampun dalam rangka persiapannya menghadap Sang Hakim Yang Maha Adil. Kondisinya saat ini bisa diibaratkan Hidup Enggan Mati Pun Tak Boleh. Bukan tak mau mati karena jika saja dibolehkan, manusia renta pemilik tubuh yang sakit-sakitan tentu lebih memilih mengakhiri rasa sakitnya agar tidak lagi tersiksa dan menyusahkan orang-orang sekitar yang mencintainya.

Kasihan. Dengan kondisi demikian, masih saja Pak Harto masih menjadi konsumsi politik. Kondisi kesehatan Pak Harto saat ini seakan menjadi ajang pemanasan kampanye sebelum Pemilu 2009. Mulai dari ‘bekas‘ kroni sampai musuh besarnya, sekarang ikut memberikan perhatian kosong demi mencari simpati dari Soeharto, keluarga, dan orang-orang yang masih mendukungnya. Seakan Pak Harto tidak boleh dulu mati sebelum pemilu. Tidak bisa dipungkiri, demikian banyak harta yang dimiliki Soeharto dan keluarganya. Juga tidak bisa dipungkiri agak lumayan banyak orang-orang yang masih mendukungnya. Tak cuma dana, dukungan suara pun mereka incar untuk Pemilu 2009. Mulai dari yang masih malu-malu sampai memalukan..! Mulai dari sekedar mengirimkan karangan bunga, datang menjenguk, sampai berkoar-koar melalui media supaya proses hukum Soeharto dikesampingkan dulu atau dihentikan saja, bahkan ada yang mengaku-ngaku dititipi negeri ini oleh Soeharto..??

Padahal beliau juga pastinya ingin dimaafkan atas segala dosa dan kekhilafannya. Tapi untuk menuju itu semua proses hukum tetaplah harus dijalankan. Janganlah lagi menyiksa seorang tua renta yang sakit-sakitan dengan menggantung status hukumnya. Jika tidak bersalah maka ditetapkanlah, begitu juga jika memang bersalah maka ditetapkanlah apa saja yang menjadi kesalahannya. Jika pun diputuskan bersalah, toh dengan kondisi yang demikian tidak mungkin menghukum badan Pak Harto. Bangsa Indonesia juga bisa dengan legowo memaafkannya. Masalah Perdata ato ‘harta gono-gini‘ bisa cingcai lah, selama bagian terbesar dialokasikan buat kepentingan rakyat Indonesia.

Apa yang terjadi saat ini, kroni-kroni Pak Harto berharap status hukumnya bisa dilupakan, terkuburkan, bersama jasadnya agar mereka yang masih sehat tidak ikut terjerat sebagai orang yang bersalah. Itu pun masih dengan syarat, Pak Harto boleh meninggalkan dunia ini setelah mewarisi harta dan dukungan suaranya untuk kepentingan mereka kedepan (Pemilu & Pilpres 2009, dan lainnya). Mereka masih saja mengambil kesempatan dalam kesempitan, menggerogoti dan menghisap darah dari sesosok tubuh tua renta yang tak lagi berdaya yang hanya menginginkan istirahat bagi tubuhnya. Tidakkan kita semua juga memiliki orang tua, dimana kita harus menghormati dan bersikap adil kepada mereka.

~Abu Hasan~

Leave a Reply