Kebaikan Tidak Pernah Menyakitkan

Dalam suatu diskusi lepas malam, seorang anak muda menanyakan kepada sang Guru, “Guru, seringkali saya bertanya pada diri sendiri, apakah yang saya lakukan ini adalah baik.” Lanjut pemuda tadi, “lalu bagaimana cara saya mengukur apakah perbuatan yang saya lakukan itu baik atau tidak?”. Saya pun berkaca pada pemuda tadi. Memang terkadang manusia menjadi begitu egois dan dengan mudahnya mengeluarkan ribuan alasan dan memfatwakan bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu baik. Sebuah perbuatan yang menjijikkan, mencari pembenaran atas suatu perbuatan buruknya. Malah terkadang nurani pun dibantah dan disembunyikan. Atau dalam kondisi lain yang sejenis tapi tak sama, adalah ketika seseorang yang tidak tahu/sadar dirinya melakukan perbuatan yang tidak baik dan menganggap mereka melakukan perbuatan baik –menurut versi dirinya atau teman-teman dekatnya–. Tapi sayangnya mereka tidak mau belajar dan berusaha mencari tahu apakah perbuatan mereka itu baik atau tidak.

Sang Guru pun dengan sabar menerangkan, “suatu kebaikan jika secara kasat mata bisa dilihat, apakah mayoritas orang-orang menilai perbuatan tersebut adalah perbuatan baik. Apakah mereka merasakan dampak kebaikan dari perbuatan tersebut.” Pemuda tadi pun terdiam sambil merenung kembali apakah perbuatan-perbuatan yang selama ini dia anggap kebaikan itu juga dianggap kebaikan oleh mayoritas orang lain disekitarnya.

Lalu bagaimana dengan imunisasi, bukankah itu perbuatan itu baik tapi tampak menyakitkan bagi sang bayi? Coba kita sedikit berhitung berapa detik rasa sakit yang dirasakan ketika jarum suntik menusuk kulitnya, tapi berapa tahun imunisasi itu bisa memberikan perlindungan bagi diri sang bayi. Anda juga bisa mencoba bertanya kepada para orang tua sekitar kita tentang imunisasi tersebut apakah yang kita lakukan kepada bayi kita adalah perbuatan yang tidak baik. Saya pernah dalam posisi yang sulit ketika akan melakukan suatu perbuatan kepada rekan bisnis sehingga mengambil sikap ‘biarlah cukup hanya DIA yang tahu bahwa saya melakukan hal ini adalah untuk kebaikan meskipun terlihat oleh orang lain hal itu justru tidak baik bagi rekan saya tersebut’. Dan kemudian ternyata belakangan saya menyaksikan bahwa tidak ada kebaikan yang rekan saya rasakan dari perbuatan yang saya lakukan. Saya jadi telah salah tafsir atas perbuatan saya.

Bingung? Begitu pun saya. Meski demikian bagi saya setidaknya ada landasan saya sebelum melakukan suatu perbuatan:

  1. Apakah perbuatan yang saya lakukan jelas bertentangan larangan Tuhan (dengan segala keterbatasan keilmuan kita) atau tidak.
  2. Fiqh Awliyat (Fiqh Prioritas – buku karangan Dr.Yusuf Qaradhawi), menghindarkan diri dari melakukan perbuatan yang dilarang-Nya lebih didahulukan daripada melakukan apa yang diperintahkan-Nya.
  3. Mengevaluasi manfaat atau mudharat yang lebih banyak dihasilkan dari perbuatan saya itu.
  4. Menanyakan pada nurani (dengan melepas semua atribut egoisme dan kepentingan pribadi) apakah itu adalah sebuah perbuatan baik. Hati itu pun adalah hati yang senantiasa taqarrub ilallah (mendekatkan diri pada Allah SWT), sehingga pertimbangannya adalah pertimbangan robbani, Rabb pencipta segala kebaikan. Karena kebenaran memang mutlak hanya berasal dari-Nya, sedangkan salah dan khilaf adalah dari manusia semata.
  5. The last not the least, berdo’a pada-Nya agar diri ini terlindung dari melakukan perbuatan yang buruk dan memohon petunjuk-Nya untuk dapat selalu melakukan kebaikan.

Anda punya tambahan masukan?

~Abu Hasan~

Mengenang seorang rekan yang telah di’angkat’ menjadi ‘professor’ bidang keahlian antah berantah, semoga Allah SWT memberikan hidayah padanya.

Leave a Reply