
“Dek, kita keluar yuk? Lihat pohon pisang yuk, Dek? Bagus dech…”. Senyuman pun tersungging di bibirku saat mendengar kata-kata putriku paling besar yang kini berusia tiga tahun mengajak bermain adiknya yang berusia 1 tahun 4 bulan. Bukan lagi mengajak berkuda dengan kuda putih kesayangannya yang biasa dia lakukan setiap pekan, bermain pasir dan jungkat-jungkit yang hampir setiap hari dia lakukan, bukan juga seluncuran atau ayunan yang setiap saat bisa dimainkan, bahkan bukan juga odong-odong, timezone, atau mainan berkoin lainnya. Kata-kata itu spontanitas keluar dari mulutnya tatkala saya dan dia diminta oleh sang bunda untuk mengajak bermain si adik agar tidak mengganggu rutinitas sang bunda tercinta mencuci pakaian. Kami patut besyukur karena putra-putri kami mampu cepat menyesuaikan diri dengan kondisi kami saat ini. Tawa canda dan senyum manis mereka tak lekang seiring hilangnya segala fasilitas yang kami miliki beberapa waktu yang lalu. Bermain di kebun sebelah rumah kontrakan dan menyusun sandal-sepatu pun menjadi hiburan ala kadarnya bagi mereka.
Rengekan menonton koleksi VCD pendidikan hadiah gratis sebuah produk susu bubuk pun hanya beberapa kali muncul ketika kerinduan dan kebosanannya sedang memuncak. Hal yang sangat wajar dilakukan seorang anak. Bahkan sesekali sang kakak menyebut guru-guru dan teman-teman di kelas play groupnya, mengulang lagu berwudhu, bermacam-macam do’a, permainan tepuk, dan pelajaran yang lainnya. Bahkan sang kakak pernah menyebut nama bekas supir kami ketika kami membicarakan rencana mencukur rambut kepala si adik. Keterbatasan ini memang membuat kami jauh dari kehidupan kami dahulu. Tapi rasa syukur harus selalu kami ucapkan karena dibalik tangis rengek mereka yang terpenting tawa dan canda mereka mampu hadir dalam keseharian kami. Karena tawa mereka adalah penyemangat hidup kami, canda mereka pembangkit gelora hidup kami yang nyaris padam dengan segala cobaan ini.
Di balik kisah di awal tadi saya sempat bertanya pada sang kakak, “memangnya kakak pernah main ke pohon pisang itu?”. “Belom…”, jawab sang kakak. Saya pun berujar,” koq bisa bilang pohon pisangnya bagus..?”. Hmmm…
~Abu Hasan~
<Dari catatan harian seorang teman>
Semoga senyuman dapat selalu hadir dalam hidup mereka. Semoga tawa dan canda mereka mampu membuka mata hati seorang pencinta mereka yang memposisikan mereka dalam kondisi seperti saat ini.
Filed under: My family, Special - My Kidz | Tagged: anak, canda, main, pohon pisang, tawa











