Yaa Rabbi, bagaimana mungkin…

Perlahan-lahan kehidupan ini mulai dapat kami nikmati, ‘enjoy your life‘ kata orang disana. Masalah-masalah yang mengejar memang tak pernah hilang atau berhenti barang sejenak. Masalah itu masih ada, tak akan hilang sampai kami sendiri yang menyelesaikannya, tak bisa berharap dari orang lain meski sebenarnya masalah itu tanggung jawab bersama. Solusi yang realistis belum juga muncul, kami harus menanggung hutang yang tidak pernah kami cicipi wujudnya. Mencari kerja masih terus diupayakan, apapun lowongannya. Memulai usaha sendiri praktis hampir mustahil tanpa ada sedikit pun modal yang kami miliki apalagi kami telah berkomitmen tidak akan pernah lagi berhutang untuk alasan apapun. Satu per satu panggian interview datang tanpa ada hasil yang jelas, mulai dari lowongan asli dari perusahaan bonafide sampai perusahaan ‘penipu’ yang berusaha mencari nasabah/investor untuk transaksi valasnya dengan berkedok membuka lowongan pekerjaan, kami datangi.

Life is not easy‘, memang hidup itu akan terasa berat jika kita tidak pernah tahu apa tujuan hidup ini. Ibarat orang berjalan ditengah gurun yang terik tanpa pernah tahu kea rah mana tujuannya, sejauh mata memandang hanya hamparan pasir yang ada. Terik sinar matahari makin menampakkan betapa tidak bersahabatnya kehidupan diluar sana dengan diri kita. Hingga hidup seperti hanya sekedar untuk mengejar oase-oase fatamorgana yang tampak rindang dan sejuk tapi hilang seketika kita sampai disana. Mata air-mata air palsu bualan penglihatan manusia tak mampu menebus dahaga yang ada.

Tapi kami punya tujuan hidup. Beribadah, that’s all. Hanya karena alasan itu kenapa kami diciptakan di dunia ini dan hanya karena alasan itu pulalah sehingga kami masih ada di dunia saat ini. Hingga kami harus senantiasa bersyukur ketika diri ini masih dimampukan untuk beribadah kepada-Nya. Seorang telah banyak mengingatkan kami akan hal ini, pada masa-masa yang tidak cukup mudah bagi kami saat ini. Saat segala keterbatasan melingkupi kehidupan kami, meski kami tak akan pernah mengatakan bahwa saat ini kami sedang mengalami ‘kekurangan’. Sungguh Allah SWT telah mencukupi rizqi untuk kami meskipun bagi sebagian orang kondisi kami berkekurangan. Rabb kami pasti memiliki rencana besar di balik semua ini, Dia pasti telah memiliki rasio dan rumusan yang pasti benar atas ‘jatah’ rizqi kami di dunia ini. Jikapun suatu saat telah habis, maka itulah giliran kami menghadap-Nya untuk mengharap bentuk cinta-Nya yang lain di akhirat nanti.

Hari ini memang seperti hari lainnya, hanya saja dana yang seharusnya digunakan untuk makan sehari-hari harus berkurang alokasinya karena aku gunakan untuk ongkos ke Jakarta memenuhi panggilan interview sebuah perusahaan pagi tadi. Seperti biasa pula kami makan bersama-sama, aku, bidadariku tercinta, dan kedua penyejuk hati kami, Salsabila dan Azzam. Dua piring nasi dengan warna hitam dari kecap yang sangat mewarnai telah disiapkan. Memang itu yang menjadi favorit kami saat ini, malah terkadang meski lauk masih ada Salsabila dan Azzam tetap minta suapan nasi kecap tanpa lauk. Bergantian mereka minta disuapkan entah dari aku atau sang bunda, yang posisinya paling dekat dengan mereka. Alhamdulillah hingga pada paruh terakhir nasi di piring tersisa, mulut-mulut mungil mereka masih tetap terbuka. Tapi rupanya kali ini keaktifan bermain mereka membutuhkan energi cukup besar sehingga mereka makan cukup lahap. Yaa Rabbi, bagaimana mungkin tanganku menyuapkan nasi ke mulutku sementara mulut-mulut mungil mereka masih terbuka lebar… yaa Rabbi, bagaimana mungkin diri ini tega mengharapkan masih akan tersedia sisa nasi dari mereka setelah mereka kenyang nanti. Yaa Rabbi, aku percaya bahwa diri ini telah Engkau berikan rizqi tersendiri, Engkau Maha Kuasa sehingga aku tak akan pernah bisa mengetahui cara-Mu menyampaikan rizqi kepadaku.

Yaa Rabbi, ampunilah hamba-Mu ini, yang sering tak mampu menyadari, istriku tercinta pasti lebih sering mengalami hal ini. Mulutnya tetap mampu berkata kenyang meski lambungnya berteriak lapar. Beberapa sendok nasi tambahan yang kuselipkan sembunyi-sembunyi pasti tak akan cukup membungkam teriakan lapar lambungnya. Yaa Rabbi, ampunilah hamba-Mu ini.

Subhanallah…ternyata masih ada beberapa sendok nasi tersisa. Maha Besar Allah SWT yang telah membuat lambung ini tak lagi perih. Alhamdulillah karena rasa lapar itu telah hilang. Laa hawla walaa quwwata illa billah…

 

~Abu Hasan~

<Dari catatan harian seorang teman>

Semoga dengan kesabarannya Allah SWT menghapuskan dosa-dosanya dan dengan kesyukurannya Allah SWT tambahkan rizqi untuknya. Semoga Allah SWT juga membukakan pintu hidayah kepada orang-orang yang menjadikannya seperti sekarang ini…

5 Responses

  1. Asslm wr. wb, Abu Nadia..
    Sebelumnya mohon ma’af sudah lihat2 fs dan blognya Pak Miftah. Walaupun sebenarnya banyak pertanyaan, tapi mencoba untuk tidak bertanya karena takut menyinggung kel.Pak Miftah. Sekedar info beberapa kali Ibu Endah (wali kelas Nadia) dan Om Edi (jemputan) ke rumah Bapak tapi dalam keadaan kosong, saya sms Ummu Nadia namun tidak ada balasan, hanya ingin mengetahui kabar nadia dan kel. karena sudah beberapa pekan tidak ada kabar. Setelah membaca blog Bapak, pertanyaan saya sedikit terjawab. Mohon ma’af bukan saya ingin mencampuri urusan Bapak, tapi bisakah saya meringankan sedikit “ujian” Bapak dan kel? Insya Allah kami siap membantu Bapak dan kel.walaupun mungkin tidak seberapa bantuan kami, tolong jangan sungkan.
    Teriring doa untuk Bapak dan kel. semoga Allah mengikhlaskan hati Bapak dan kel.dalam menjalani ujian dari Allah. Aamiin.
    Salam untuk Nadia dari Yusron (baru saja Yusron menanyakan: “Bunda, kenapa Nadia nggak masuk2 ke sekolah? Pindah ya? Aku tau pindahnya Nadia, pasti ke Mc.D!”)
    Waslm. wr. wb

    *bunda yusron*

  2. Bunda Yusron yang baik hati, semoga bunda senantiasa dirahmati Allah SWT. Terima kasih untuk tawaran bantuannya, tapi kami tidak ingin merepotkan orang lain. Nadia juga kangen sekali sama teman-temannya di sekolah, apalagi Yusron dan Andika. Salam untuk guru-guru Nadia di sekolah. Kita lanjutin lewat japri aja yah ke email miftahbss@gmail.com

  3. Assalamu’alaikum Wr Wb
    Pak Miftah ini dengan bu endah, bagaimana kabarnya sekeluarga?kami harap sehat ya pak! bagaimana dengan Nadia pa?semua guru&teman sangat merindukan nadia. setiap hari teman-temannya selalu menanyakan nadia sampai saya bingung harus menjawab apa. sejak nadia tidak masuk sudah lebih dari 2 pekan, kami sangat hawatir dan bingung karena tidak ada informasi yang bisa didapatkan. berkali-kali kami menghubungi no hp umi nadia namun tidak aktif, 2 kali kami ke rumah bapak namun tidak ada info yang bisa diperoleh. sampai akhirnya kamis kemarin kami mendapat informasi dari bunda Yusron tentang keadaan keluarga bapak saat ini. saya pun minta website bapak dengan harapan bisa mendapat informasi yang jelas. mohon maaf saya sudah lihat2 fs dan blognya bapak. terus terang kami bingung kenapa bapak dan ibu tidak memberi kabar ke sekolah tentang kenapa nadia tidak masuk lagi, namun setelah mengetahui keadaan sesungguhnya kami sangat memahaminya. saya telah menceritakan semuanya kepada bu farida karena beliau selalu bertanya tentang kabar nadia, beliau berpesan apabila nadia mau main-main ke sekolah pintu SANI akan selalu terbuka untk nadia. teman2nya pasti akan sangat senang pak! kami turut berdo’a mudah2an Allah SWT senantiasa memberi kesabaran dan kemudahan kepada keluarga bapak dalam menghadapi ujian yang tengah dihadapi. boleh kami tau alamat keluarga bapak sekarang?salam untuk umi nadia&salam sayang untuk nadia dari guru2 dan teman2nya yang akan selalu merindukannya.
    “nadia sayang bu endah kangen sama nadia! nadia kangen ga sama bu endah&teman2? baju nadia, folder, meja, crayon, sarung tangan, sandal&foto2 nadia masih bu endah simpan nak di sekolah. kapan2 nadia ke sekolah ya! bu endah tunggu lo!”
    Wassalamu’alaikum Wr Wb

  4. Wa ‘alaykum salam Wr. Wb.

    Alhamdulillah, akhirnya bisa berjumpa lewat dunia maya dengan salah satu guru favorit Nadia. Nadia masih sayang banget sama Bu Endah. Nadia juga kangen banget sama Bu Guru Endah, Pak Rangga, guru lain, juga teman2nya. Tadi Nadia juga bilang kangen dipanggil Dino kalo sedang kegerahan lalu lepas jilbab.

    Alhamdulillah kami sekeluarga sehat2. Amiin… atas semua doanya. Kalau memang sudah memungkinkan pasti Nadia segera ke SANI, meskipun kami belum tahu sampai kapan… Mohon doanya.

    Kita via Jalur Pribadi aja ya, Bu Guru. Silahkan kirim email ke miftahbss@gmail.com atau ummunadia@gmail.com. Jazakillah.

    Wassalam,
    Abu Hasan

  5. Assalamu’alaikum Wr. Wb
    Ini adalah yang ke empat kalinya saya mengirim pesan lewat dunia maya untuk ananda Nadia. walupun sebelumnya gagal dan tidak pernah ada jawaban, saya berharap kali ini bisa mendapat jawaban dari bapak dan ibu.
    empat bulan sudah kami tidak bertemu dengan Nadia, namun kami masih saja selalu teringat dengan nadia dan rasa rindu ingin bertemu semakin kuat terasa di dalam hati.
    Nadia, bagaimana kabarmu sekarang Nak? Ibu selalu teringat akan senyum mu yang imut, suara mu yang mungil masih selalu terngiang di telinga ibu.
    Nadia masih ingat sama bu endah dan teman-teman?
    sampai sekarang, teman-teman juga masih saja menyebut-nyebut nama Nadia.
    andai saja kami bisa tau dimana keberadaan nadia sekarang, tentu kami akan mencoba untuk mencari dan berkunjung sekedar untuk mengobati rasa rindu.
    semoga Allah memberikan kita kesempatan untuk bersilaturrahim lagi, Wass…..

Leave a Reply